Featured Post 2

Marhaban. Selamat datang di forum anak-anak Selayar di perantauan. Forum Muslim Ilmiah Selayar (FORMIS)

Formis Selayang Pandang

Emotinal Syria

Tampilkan postingan dengan label Islamia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamia. Tampilkan semua postingan

Dengan Atau Tanpa Kamu

Allah benar-benar menampakkan pertolonganNya pada Diin ini. Ketika Allah memberhentikannya saat itu pula Allah melantik penggantinya. Itulah yang terjadi di mesjid kami, mesjid Al-Mubarakah, dalam semarak buka puasa tahun ini.
Adalah seorang Kakek tua, yang sejak bertahun-tahun lalu melayani buka puasa berjamaah di mesjid ini. Menjelang berbuka, ia telah menyiapkan perabot-perabot buka puasa. Ia telah mencuci piring dan gelas-gelas. Setiap hari ia sibuk melayani kue-kue yang datang silih berganti. Menyajikannya dan mempersilahkan jamaah menyantap, berbuka bersama. Setelah shalat Maghrib, sang Kakek dengan cukup tangkas membersihkan kue-kue yang masih tersisa.
Kini sang kakek telah renta. Ia sudah tidak rutin shalat berjamaah. Sesuai anjuran dokter, ia tidak boleh terlalu banyak berdiri. Beberapa kali ia sempat hampir terjatuh di Mesjid. Untung ada jamaah yang memapah beliau. Karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan menjadi pelayan buka puasa seperti tahun lalu, tugasnya diambil alih oleh cucu-cucunya.
Cucu-cucu ini masih SD. Sebagaimana kakeknya, sebelum waktu berbuka mereka telah membersihkan semua peralatan buka puasa. Mereka juga sibuk menerima kue-kue dari masyarakat di sekitar mesjid. Mereka menyajikan santapan buka dengan rapi. Setelah shalat maghrib, mereka pula yang membersihkan sisa buka puasa. Meski tak setiap hari. Ternyata Allah selalu memiliki hamba-hamba yang siap menegakkan syi’ar-syi’ar Islam.
Jika Allah menyediakan hamba-hambaNya yang senantiasa menghidupkan syi’ar buka berjamaah, tentu syi’ar yang lebih besar Allah telah menyiapkan pengganti pula. Allah tidak akan membiarkan Islam ini terkatung-katung. Akan tetap ada segolongan orang yang senantiasa mengusungnya. Menegakkan hujjahnya. Meninggikannya atas semua pandangan jahiliyah.
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
Orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya perlu tahu, Allah yang Maha membolak-balikkan hati akan selalu menyiapkan hamba-hambaNya untuk membela apa-apa yang tidak mereka sukai. Orang-orang yang ingin menyingkirkan Islam dari muka bumi perlu tahu, Pencipta langit dan bumi tidak pernah luput dari perbuatan mereka. Dan orang beriman harus tahu, jika mereka lelah dan berputus asa, lalu mundur dan meninggalkan jalan perjuangan ini, Allah akan menggantikan mereka dengan: “…suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya…”. Kaum yang tidak akan mengkhianati amanah dakwah yang dibebankan kepada mereka.
Sebagai Muslim, kita yakin, Islam akan tegak dengan atau tanpa kita. Dan orang-orang beriman tidak akan rela dirinya digantikan kaum lain. Digantikan setelah sebelumnya dipecat dari jalan perjuangan!
Makassar, 3 Ramadhan 1433


Read Post | komentar

Berdakwah Lewat Tulisan: Proposal untuk Para Aktifis Dakwah

Tulisan merupakan salah satu media dakwah. Tentang keutamaannya, Drs. Syukriadi Sambas, M. Si, dekan Fakultas Dakwah IAIN SGD Bandung, dalam pengantar buku Berdakwah Lewat Tulisan karangan Eep Kusnawan mengatakan, “Paling tidak, ia (tulisan) hadir untuk menjawab permasalahan: dapatkah dakwah disampaikan secara secara serempak dalam waktu relatif bersamaan? Selain itu, bagaimana pula agar pesan dakwah tidak mudah lekang dan dapat dikaji ulang? Bagaimana pula agar mad’u yang tidak sempat mengikuti pengajian karena sibuk, tetap dapat menerima pesan-pesan dakwah? Disamping, bagaimana pula memberikan nuansa kesejukan pada informasi yang disampaikan berbagai medai cetak yang jumlahnya semakin bertambah? Persoalan itu akan terjawab oleh kajian dakwah melalui tulisan di media massa.” Ia melanjutkan, diantara keutamaan media tulisan antara lain, dapat menyebar dalam waktu yang bersamaan, dapat diarsipkan, dan dapat menembus sementara pihak yang tidak cukup waktu untuk menghadiri pengajian.[1]
Read Post | komentar

Surat Untuk...

Tanggal sepuluh Juli dua ribu dua belas malam
Untuk # di Benteng Selayar,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,..
Segala puji hanya milik Allah. Salam dan salawat semoga tetap tercurah ke Nabiullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan segenap keluarga beliau.
Alhamdulillah tadi sore saya sudah membeli kitab Minhajul Qashidin bahasa Indonesia. Mohon maaf karena saya tidak tahu buku yang khusus membahas menundukkan pandangan. Sepertinya saya memang tidak pernah membaca buku seperti itu. Yang banyak hanya artikel lepas yang di posting di internet.
Menundukkan pandangan merupakan bagian dari Tazkiyatun Nufus. Karena itulah saya berpikir lebih baik membeli buku yang lebih lengkap dan khusus membahas penyucian jiwa. Sebab jika parsial, yakni hanya menundukkan pandangan saja, sepertinya tidak akan berpengaruh sesuai keinginan kita.
Allah ta’ala (QS.An-Nur: 30-31) memerintahkan laki-laki dan wanita-wanita beriman untuk masing-masing menundukkan pandangan. Sebab itu lebih suci bagi keduanya. Saya pun masih terus berlatih mengamalkan perintah ini. dan insya Allah dengan mengkhatamkan Minhajul Qashidin dapat membantu menundukkan pandangan.
Read Post | komentar

KEMI: Cinta Kebebasan Yang Tersesat

Adalah novel Ustadz Dr. Adian Husaini. Terbitan pertama oleh Gema Insani Press pada bulan Syawal 1431. Berukuran 18,3 cm dengan tebal 316 halaman.
Novel ini berkisah tentang Rahmat. Seorang santri cerdas yang diutus Kyai-nya ke Institute Damai-Sentosa, tempat sahabatnya Kemi melanjutkan pendidikan. Ia membawa misi mengembalikan Kemi ke pesantren. mengembalikannya ke Islam. Mengajaknya bertaubat dari pemikiran liberal yang selama ini digelutinya.
Read Post | komentar

Malam Nishfu Sya'ban Sama Dengan Malam Lainnya

Syaikhuna, Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhohullah ditanya, “Apakah ada dalil dari Al Qur’an atau hadits nabawi yang menunjukkan anjuran shalat malam nishfu sya’ban dan puasa di siang harinya? Jika ada dalil, bagaimana cara khusus untuk menghidupkan malam nishfu sya’ban tersebut?
malam_nishfu_syabanSyaikh hafizhohullah menjawab,
Tidaklah ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan anjuran menghidupkan malam nishfu Sya’ban atau berpuasa pada siang harinya (15 Sya’ban). Tidak ada dalil yang menjadi sandaran dalam hal tersebut. Malam nishfu Sya’ban seperti halnya malam lainnya. Barangsiapa memiliki kebiasaan menghidupkan malam harinya dengan shalat tahajjud, maka hendaklah ia menghidupkannya sebagaimana ia melakukannya di malam-malam lainnya selama ia tidak menganggap pada malam tersebut punya keistimewaan. Karena mengkhususkan suatu waktu untuk ibadah harus membutuhkan dalil yang shahih. Jika tidak ada dalilshahih, maka mengkhususkan suatu ibadah pada waktu tertentu termasuk amalan yang tidak ada tuntunan. Setiap amalan yang tidak ada tuntunan termasuk kesesatan.
Begitu pula tidak ada dalil yang menunjukkan anjuran berpuasa pada tanggal 15 Sya’ban atau pada hari nishfu Sya’ban. Tidak ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan untuk melakukan puasa pada hari tersebut. Jadi jika mengistimewakan puasa pada hari tersebut, maka jelas adalah suatu yang tidak ada tuntunannya. Karena amalan yang tidak ada tuntunan adalah yang tidak memiliki dalil dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dianggap oleh orang yang melakukannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Karena sekali lagi ibadah adalah tauqifiyah yang harus didukung oleh dalil syar’i.
Adapun hadits yang membicarakan nishfu sya’ban semuanya dho’if (lemah) sebagaimana disebutkan oleh para ulama sehingga tidak bisa dijadikan landasan dalam beribadah. Jadinya tidak perlu mengkhususkan ibadah shalat malam maupun puasa pada hari tersebut. Namun bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), maka hendaklah ia melakukan puasa tersebut pada bulan Sya’ban sebagaimana bulan lainnya dan tidak perlu menjadikan tanggal 15 tersebut menjadi hari yang istimewa dari yang lainnya. Begitu pula yang hendak memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka silakan melakukannya. Akan tetapi janganlah menjadikan puasa tanggal 15 tersebut menjadi puasa yang istimewa lebih dari yang lainnya. Puasa pada tanggal tersebut hanyalah ikutan dari puasa lainnya.
Intinya, tidaklah tepat mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan shalat malam. Begitu pula tidaklah tepat mengistimewakan hari nishfu Sya’ban (15 Sya’ban) dengan puasa khusus. Semua yang dilakukan orang awam pada malam tersebut atau siang harinya, semuanya adalah amalan yang tidak ada tuntunan dan perlu diperingatkan. Ibadah shalat dan puasa sudahlah cukup dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak perlu membuat-buat suatu amalan baru (yang tidak ada tuntunannya). Wallahu Ta’ala a’lam. [Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan, soal no. 156, urutan Asy Syamilah]
Renungan …
‘Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).
Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin(menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3: 29).
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Baca pembahasan lainnya di Rumaysho.com mengenai malam Nishfu Sya’ban:

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 8 Sya’ban 1433 H
rumaysho.com 
Read Post | komentar (2)
 
© Copyright Formis Official Site 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all