Featured Post 2

Marhaban. Selamat datang di forum anak-anak Selayar di perantauan. Forum Muslim Ilmiah Selayar (FORMIS)

Formis Selayang Pandang

Emotinal Syria

Malam Nishfu Sya'ban Sama Dengan Malam Lainnya

Syaikhuna, Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhohullah ditanya, “Apakah ada dalil dari Al Qur’an atau hadits nabawi yang menunjukkan anjuran shalat malam nishfu sya’ban dan puasa di siang harinya? Jika ada dalil, bagaimana cara khusus untuk menghidupkan malam nishfu sya’ban tersebut?
malam_nishfu_syabanSyaikh hafizhohullah menjawab,
Tidaklah ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan anjuran menghidupkan malam nishfu Sya’ban atau berpuasa pada siang harinya (15 Sya’ban). Tidak ada dalil yang menjadi sandaran dalam hal tersebut. Malam nishfu Sya’ban seperti halnya malam lainnya. Barangsiapa memiliki kebiasaan menghidupkan malam harinya dengan shalat tahajjud, maka hendaklah ia menghidupkannya sebagaimana ia melakukannya di malam-malam lainnya selama ia tidak menganggap pada malam tersebut punya keistimewaan. Karena mengkhususkan suatu waktu untuk ibadah harus membutuhkan dalil yang shahih. Jika tidak ada dalilshahih, maka mengkhususkan suatu ibadah pada waktu tertentu termasuk amalan yang tidak ada tuntunan. Setiap amalan yang tidak ada tuntunan termasuk kesesatan.
Begitu pula tidak ada dalil yang menunjukkan anjuran berpuasa pada tanggal 15 Sya’ban atau pada hari nishfu Sya’ban. Tidak ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan untuk melakukan puasa pada hari tersebut. Jadi jika mengistimewakan puasa pada hari tersebut, maka jelas adalah suatu yang tidak ada tuntunannya. Karena amalan yang tidak ada tuntunan adalah yang tidak memiliki dalil dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dianggap oleh orang yang melakukannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Karena sekali lagi ibadah adalah tauqifiyah yang harus didukung oleh dalil syar’i.
Adapun hadits yang membicarakan nishfu sya’ban semuanya dho’if (lemah) sebagaimana disebutkan oleh para ulama sehingga tidak bisa dijadikan landasan dalam beribadah. Jadinya tidak perlu mengkhususkan ibadah shalat malam maupun puasa pada hari tersebut. Namun bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), maka hendaklah ia melakukan puasa tersebut pada bulan Sya’ban sebagaimana bulan lainnya dan tidak perlu menjadikan tanggal 15 tersebut menjadi hari yang istimewa dari yang lainnya. Begitu pula yang hendak memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka silakan melakukannya. Akan tetapi janganlah menjadikan puasa tanggal 15 tersebut menjadi puasa yang istimewa lebih dari yang lainnya. Puasa pada tanggal tersebut hanyalah ikutan dari puasa lainnya.
Intinya, tidaklah tepat mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan shalat malam. Begitu pula tidaklah tepat mengistimewakan hari nishfu Sya’ban (15 Sya’ban) dengan puasa khusus. Semua yang dilakukan orang awam pada malam tersebut atau siang harinya, semuanya adalah amalan yang tidak ada tuntunan dan perlu diperingatkan. Ibadah shalat dan puasa sudahlah cukup dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak perlu membuat-buat suatu amalan baru (yang tidak ada tuntunannya). Wallahu Ta’ala a’lam. [Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan, soal no. 156, urutan Asy Syamilah]
Renungan …
‘Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).
Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin(menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3: 29).
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Baca pembahasan lainnya di Rumaysho.com mengenai malam Nishfu Sya’ban:

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 8 Sya’ban 1433 H
rumaysho.com 
Read Post | komentar (2)

Hatinya Bergetar

Kisah berikut dituturkan Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc dalam kajian rutin Senin sore di Mesjid Ulul Albab Politeknik Negeri Ujung Pandang. Hadist tentang keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kala itu, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu membuat tempat khusus di depan rumahnya untuk shalat. Bacaan Al-Qur’annya menarik perhatian wanita-wanita dan anak-anak orang musyrik Mekah.
Suatu ketika, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi, atau yang akrab disapa Syaikh Al-Arifi, berceramah di tempat yang dihadiri orang-orang Islam dan orang-orang kafir. Setelah ceramah, beliau disambut hangat oleh hadirin. Lalu ada seseorang yang menemui beliau. Ia bertanya perihal ceramah beliau. Katanya ada beberapa kalimat di sela-sela ceramah itu yang sangat menggugahnya. Berbeda dengan kalimat lainnya. Dan ia yakin itu bukan ucapan Syaikh Al-Arifi.
Syaikh pun mengulangi beberapa kalimat yang dimaksud. Dan tahukah Anda kalimat apa itu? ia adalah ayat-ayat Al-Qur’an.
Uniknya, orang tadi tidak dapat berbahasa Arab. Dia dapat membedakan bahasa Arab dengan bahasa Al-Qur’an. Meskipun bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab.
Wajar saja orang-orang musyrik Mekah melarang Abu Bakar Ash-Shiddiq shalat atau membaca A-Qur’an terang-terangan.
Read Post | komentar

Bedah Buku Islam Liberal 101

Selasa, 29 Rajab 1433 atau bertepatan tanggal 19 Juni 2012 Miladiyah, Solidaritas Muslim Se-FIS (SMS) bekerja sama dengan UKM LDK MPM Unhas, menggelar bedah buku “Islam Liberal 101”. Menghadirkan penulisnya, Akmal Sjafril, S.T, M.Pd.I yang sedang tour di kota Makassar. Tampil sebagai pembicara mendampingi Akmal, Dr. Muhammad Rusdi, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang memiliki kepedulian tinggi menangkal gerakan Islam liberal. Kegiatan ini dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus. Terutama yang tergabung dalam Komunitas Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal) Makassar.
Prof. Dr. Muhammad Noer Jihad, pembina SMS, dalam sambutannya mengatakan bahwa Islam liberal ibarat virus. Ia adalah kuman. Masuk ke tubuh dan tidak terasa. Ia bahkan telah masuk kampus dan sangat halus. Karena itu katanya, ia sangat bersyukur ternyata masih ada mahasiswa sebagai generasi penerus perjuangan yang masih tetap peduli terhadap isu liberalisme.
Beliau juga menyampaikan apresiasi yang baik kepada segenap pengurus SMS dan MPM Unhas untuk terus mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Akmal Sjafril mulai membedah buku dengan memaparkan definisi Islam Liberal. Katanya, para aktifis liberalisme sendiri tidak dapat mendefinisikan Islam liberal. Sehingga semua argumen yang berdiri di atas Islam liberal ini juga rancu.
Menarik ketika Akmal memaparkan 6 landasan Islam Liberal dari berbagai referensi orang-orang liberal sendiri.  Katanya, kesesatan Islam liberal bermula dari kelancangan mereka membuka pintu Ijtihad bagi semua lini Islam. Mulai dari muamalah (interaksi dengan sesama), ubudiyyah (ibadah), sampai Uluhiyah (teologi). Padahal menurutnya, dalam Islam pintu berijtihad hanya pada muamalah dan ibadah. Tidak ada partisipasi manusia dalam hal ketuhanan. Berupa sifat-sifat Allah dan yang lainnya. Akmal mengatakan, mereka sesuungguhnya tidak sedang berijtihad, tetapi berspekulasi.
Anak-anak yang baru belajar Islam pun tahu, bahwa sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad. Ijtihad tidaklah dapat mengutak-atik Al-Qur’an dan sunnah. apa yang secara tegas telah tetap seperti sifat-sifat Allah, tentang halal dan haram yang sudah ditetapkan, sudah tidak dapat berubah hanya dengan ijtihad manusia.
Landasan ke dua dan seterusnya tidak beliau paparkan karena terbatasnya waktu.
Pemateri kedua, Dr. Muhammad Rusdi memberi penegasan merebaknya liberalisasi Islam di masyarakat. Ia mengatakan, di kota Makassar ada seorang tokoh yang sangat getol mempromosikan liberalisme. Karena itu, katanya, kita harus punya langkah-langkah tertentu untuk menghalangi kerja mereka.
Di akhir acara, setelah tanya jawab beberapa peserta berfoto riang dengan pemateri.
Akmal sendiri masih akan melanjutkan tour. Diantaranya ke UIN Alauddin Makassar, markas para gembong liberasme di Makassar. Rencananya, di kampus ini, beliau akan dipanel dengan Prof. Dr. Qasim Mathar, praktisi dan pegiat liberalisme. Sekedar diketahui, Qasim Mathar sebelumnya selalu tidak hadir jika diajak panel dengan Ustadz yang menentang liberalisme, terutama saat hendak berdampingan dengan Dr. Adian Husaini, ketua program pasca sarjana pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Semoga kali ini dia dapat hadir.
Semoga Allah memberi pertolongan kepada hamba-hambaNya yang bekerja keras di jalanNya.[]
Mesjid Kampus Unhas
Rabu, 30 Rajab 1433
Read Post | komentar

Sejarah Selayar

Rumah Jabatan Bupati Tempo Dulu
Pada masa lalu, Kabupaten Kepulauan Selayar pernah menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Moluccan (Maluku). Di Pulau Selayar, para pedagang singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu musim yang baik untuk berlayar. Dari aktivitas pelayaran ini pula muncul nama Selayar. Nama Selayar berasal dari kata cedaya (bahasa Sanskerta)[7][8] yang berarti satu layar, karena konon banyak perahu satu layar yang singgah di pulau ini. Kata cedaya telah diabadikan namanya dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada abad 14. Ditulis bahwa pada pertengahan abad 14, ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara, Selayar digolongkan dalam Nusantara, yaitu pulau-pulau lain di luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Ini berarti bahwa armada Gajah Mada atau Laksamana Nala pernah singgah di pulau ini.
Selain nama Selayar, pulau ini dinamakan pula dengan nama Tana Doang yang berarti tanah tempat berdoa[4]. Di masa lalu, Pulau Selayar menjadi tempat berdoa bagi para pelaut yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke barat maupun ke timur untuk keselamatan pelayaran mereka. Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa (abad 17), Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga karena letaknya yang strategis sebagai tempat transit baik untuk pelayaran menuju ke timur dan ke barat. Disebutkan dalam naskah itu bahwa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Selayar, Malaka, dan Johor, sewanya 6 rial dari tiap seratus orang.
Belanda mulai memerintah Selayar pada tahun 1739. Selayar ditetapkan sebagai sebuah keresidenan dimana residen pertamanya adalah W. Coutsier (menjabat dari 1739-1743). Berturut-turut kemudian Selayar diperintah oleh orang Belanda sebanyak 87 residen atau yang setara dengan residen seperti Asisten Resident, Gesagherbber, WD Resident, atau Controleur. Barulah Kepala pemerintahan ke 88 dijabat oleh orang Selayar, yakni Moehammad Oepoe Patta Boendoe. Saat itu telah masuk penjajahan Jepang sehingga jabatan residen telah berganti menjadi Guntjo Sodai, pada tahun 1942. Di zaman Kolonial Belanda, jabatan pemerintahan di bawah keresidenan adalah Reganschappen. Reganschappen saat itu adalah wilayah setingkat kecamatan yang dikepalai oleh pribumi bergelar "Opu". Dan kalau memang demikian, maka setidak-tidaknya ada sepuluh Reganschappen di Selayar kala itu, antara lain: Reganschappen Gantarang, Reganschappen Tanete, Reganschappen Buki, Reganschappen Laiyolo, Reganschappen Barang-Barang dan Reganschappen Bontobangun. Di bawah Regaschappen ada kepala pemerintahan dengan gelar Opu Lolo, Balegau dan Gallarang. Pada tanggal 29 November 1945 (19 Hari setelah Insiden Hotel Yamato di Surabaya) pukul 06.45 sekumpulan pemuda dari beberapa kelompok dengan jumlah sekitar 200 orang yang dipimpin oleh seorang pemuda bekas Heiho bernama Rauf Rahman memasuki kantor polisi kolonial (sekarang kantor PD. Berdikari). Para pemuda ini mengambil alih kekuasaan dari tangan Belanda yang di kemudian hari tanggal ini dijadikan tanggal Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar. Tahun Hari Jadi diambil dari tahun masuknya Agama Islam di Kabupaten Kepulauan Selayar yang dibawa oleh Datuk Ribandang, yang ditandai dengan masuk Islamnya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja, yang kemudian bernama Sultan Alauddin, pemberian Datuk Ribandang. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1605, sehingga ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 29 November 1605.[9]

Read Post | komentar

Beasiswa

Bagi teman-teman yang punya info beasiswa tolong bagi ya..
Read Post | komentar
 
© Copyright Formis Official Site 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all