Featured Post 2

Marhaban. Selamat datang di forum anak-anak Selayar di perantauan. Forum Muslim Ilmiah Selayar (FORMIS)

Formis Selayang Pandang

Emotinal Syria

Tampilkan postingan dengan label Hari-Hari FORMIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari-Hari FORMIS. Tampilkan semua postingan

Sebuah Seruan: Berhujjah dengan Pena Sunnah

Tanggal dua puluh dua bulan Sya’ban seribu empat ratus tiga puluh tiga. Atau tanggal sebelas Juli bagi yang menggunakan tanggal miladiyah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,
Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah menciptakan hambaNya dengan sebaik-baik bentuk. Memberinya potensi dan bakat yang kelak berguna bagi Islam dan kaum Muslimin. Demi mengharumkan Islam yang memang semerbak. M...enyibak noktah hitam yang melingkupi umat. Menghempas segala bendungan kejahilan di depan mata orang-orang awam.
Salam dan salawat ke Nabi dan Rasul Allah, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan kepada siapa saja yang senantiasa istiqamah di atas sunnah hingga akhir dunia ini.
Saudara Muslim dan Muslimah yang dimuliakan Allah dengan Islam. Semoga antum senantiasa dalam lindungan Allah ta’ala. Besar harapan kami semoga antum berkenan membaca surat ini hingga titik terakhir.
Beberapa pekan terakhir kami sangat resah. Dan tampaknya juga demikian bagi saudara-saudaramu pejuang lainnya. Gempuran fitnah datang dari berbagai arah. Ia laksana angin. Menghimpit dari kiri dan kanan, mendorong dari belakang dan bawah, menimpa dari atas, dan menerjang dari depan. Segala sisi, Islam dan kaum Muslimin diuji.
Orang-orang liberal berani unjuk gigi. Mereka mengiklankan kesesatan “pluralisme agama” dimana-mana. Seminar-seminar diselenggarakan, diskusi-diskusi digelar, dan buku-buku diterbitkan. Semua untuk menyebarkan paham pluralisme agama. Malangnya, ide-ide ini berkembang pesat di kampus-kampus. Yang notabene dihuni umat Islam. Dan tampaknya, sasaran utama liberalisasi ini memang umat Islam.
Bulan Ramadhan lalu sebuah forum demokrasi di kampus mengadakan diskusi. Tampil sebagai pembicara Prof. Qasim Mathar dan Pak Aswar Hasan. Kami tak banyak mempersoalkan pak Aswar, sebab dalam pengetahuan kami, beliau anggota Dewan Dakwah Islamiyah. Belum pernah kami dengar argumennya yang nyeleneh dan merendahkan Islam. Berbeda dengan Pak Aswar, Qasim Mathar mulai dari penampilan dan gelagat sama sekali tak mencerminkan kebaikan bagi manusia, khususnya kaum Muslimin.
Dalam pengantarnya, ia mengatakan semua pendapat harus diterima. Dipandang sama rata. Bahwa semua benar. Tidak ada yang salah. Tidak boleh seorang Muslim menuduh pendapat yang berseberangan dengan pendapatnya salah. Sebab katanya semua orang berhak berbicara. Lagi pula, tegasnya, kebenaran sesuatu kebanyakan tidak dinilai dari hakikat benar itu sendiri. Dengan kata lain, boleh jadi sesuatu dianggap benar padahal sesungguhnya keliru. Semua, katanya, tergantung siapa yang berkuasa saat itu.
Di Iran, lanjutnya, yang dianggap benar adalah aqidah Syiah Itsna ‘asyariyah. Sebab yang berkuasa adalah rezim syiah. Di Indonesia, yang dianggap benar adalah paham ahlussunnah wal jamaah. Sebab yang berkuasa adalah MUI dan pemerintah yang berpaham ahlus sunnah. jadi menurutnya, kebenaran itu tergantung pada siapa yang berkuasa. Sehingga jika ada kelompok tertentu yang mengklaim dirinya benar sedang yang lain salah, maka tuduhan itu mungkin bisa saja ia lontarkan, tetapi apakah ia benar-benar salah atau tidak, tergantung pada persepsi masing-masing. Yang penting, katanya, tidak boleh ada saling menyalahkan dan menyudutkan satu sama lain.
Pandangan Qasim Mathar sangat bertentangan dengan ungkapannya dalam banyak tulisannya sendiri. Suatu ketika, sebelum mengenal sosok liberal ini, kami membaca tulisannya di kolom koran harian Fajar. Mohon maaf kami lupa hari dan tanggalnya. Dalam tulisan singkat itu ia menegaskan, umat Islam di Indonesia belum mampu toleran. Masih banyak diantara umat Islam yang terlalu banyak menyalahkan yang lain. Kelompok yang berseberangan dengannya. Padahal, tanpa ia sadari, ia telah ‘menyalahkan’ kelompok yang bersebarangan dengannya. Ini paradoks. Pada saat ia mengatakan tidak boleh ‘menyalahkan’, saat itu pula ia sedang menyalahkan. Menyalahkan umat islam yang konsisten dengan agamanya. Menolak semua ajaran menyimpang yang mengaku Islam.
Merebaknya ide liberalisme seperti ini dimanfaatkan dengan baik orang-orang Syiah. Syiah yang berdiri di atas landasan aqidah yang rapuh melihat momentum ini sebagai lompatan besar dalam penyebaran keyakinannya. Orang-orang yang telah terjangkiti virus liberalisme, akan menerima semua ajaran. Kecuali Islam yang benar. Itulah sebabnya, kita melihat orang-orang yang paling getol mempertahankan Jalaluddin Rakhmat bercokol di UIN diantaranya ialahQasim Mathar.
Sebelum menyebarkan paham syiah yang sesungguhnya, kami melihat para aktivis mereka terlebih dahulu membuka kran pikiran anak-anak muda dengan liberalisme. Orang-orang yang tahap awal mengikuti diskusi dan membenarkan ide mereka akan berkata,”Kami membenarkan Al-Qur’an. Dan ia adalah kitab suci. Tetapi kita juga tidak boleh menolak konsep Aristoteles.” Mungkin ia lupa, Imam Asy-Syafii telah mengingatkan, “Orang–orang menjadi bodoh, buta agama, dan sering berselisih paham, karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles.” Ia juga sangat awam akan pertentangan pendapat dikalangan filsuf sendiri. Bahkan satu pendapat dengan pendapat lain pada satu orang filsuf tak jarang bertabrakan.
Suatu malam, teman kita dari jurusan # berkunjung ke kamar kami. Kami tak menduga kalau kepalanya sudah dicekoki pemikiran liberal dan syiah sekaligus. Tapi belum parah. Ketika menyebutkan keburukan syiah, ia menimpali,”Kalau saya pelajari keduanya. Kan kita tidak tahu apakah benar atau salah sebelum mempelajari keduanya. Makanya kami juga belajar Syiah”. Ya kamu belajar syiah, tapi dengan teman dan manhaj (jalan) yang salah.
Sekarang ia telah menjadi aktivis syiah dan liberal sekaligus. Ia mengajak teman-teman secara sembunyi-sembunyi ke rumah kontrakannya. Suatu hari ketika sedang duduk di gazebo, berkat bekal insting yang cukup tinggi terhadap segala tindak kejahatan, alhamdulillah kami dapat menebak ia sedang mengumpulkan adik-adik 2011 untuk ‘diskusi’ di rumahnya itu.
Teman kita ini telah banyak mengkhatamkan buku-buku syiah. Menurut laporan teman satu rumahnya, ia telah khatam ensiklopedi syiah. Dan ia membenarkan semua isinya. Pengakuannya bahwa ia belajar ‘keduanya’ ̶ syiah dan sunni – tidak terbukti. Ia sama sekali tidak pernah bertanya pada ustadz tentang sunni. Tidak pernah berusaha memperbaiki bacaan Qur’annya. Sehariannya dilingkupi pertamanan dengan senior yang telah terjangkit syiah. Maka jadilah ia syiah. Entah secara aqidah. Namun pemikirannya jelas menunjukkan ia cenderung ke syiah. Dan tak jarang seseorang meyakini sesuatu karena pemikirannya.
Kita tinggalkan teman ini.
Belum lama kami mengikuti seminar nasional syiah di gedung IPTEKS. Temanya “Kepemimpinan dalam Perspektif Agama dan Budaya”. Tampil sebagai pembicara Muhammad Rusli Malik (rafidhah), Musadiq Marhaban (Rafidhah), Prof. Rahimpour (Rafidhah dari Iran), dan Dr. Arya (Hindu dari Bali). Acara ini sesungguhnya tak layak disebut seminar. Apalagi seminar nasional. Para pembicara tak menyediakan makalah. Kecuali Musadiq Marhaban yang membuat makalah tanpa catatan kaki. Prof. Rahimpour membawa materi seolah ia memberi kuliah umum.
Cukup dengan seminar itu, sangat mudah ditebak bahwa penganut syiah di Indonesia dan Makassar dan sekitarnya pada khususnya sudah sangat banyak. mereka ada di sekitar kita. pakaiannya sama dengan pakaian kita. Jilbabnya sama dengan jilbab wanita Muslimah. Yang menarik perhatian kami, sebab diantara peserta wanita ada beberapa gadis belia yang nampaknya lugu. Style mereka, gaya mereka berbicara, caranya mengambil kursi duduk, gerak-gerik mereka, menunjukkan mereka asing dengan tempat-tempat sejenis IPTEKS. Ini setidaknya menunjukkan, betapa mudahnya mereka ditipu syiah. Dan bukan mustahil, sebentar lagi kehormatan mereka tergadai atas nama amalan mulia ala syiah, nikah mut’ah.
Semua peserta yang pro kegiatan itu tampak tidak siap menerima materi. Tidak satupun diantara mereka yang menunjukkan kewibawaan seorang yang berilmu. Mereka tidak siap mendapat kajian yang bertentangan dengan aqidah mereka sebelumnya. Karena gaya bicara yang seolah intelek, makalah yang tampak ilmiah, dan buku-buku yang bersampul indah, mereka tertarik dan benar-benar menjadi pendukung syiah.
Inilah poinnya. Mereka tidak berilmu sehingga mudah ditipu.
Saudara Muslim yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillah, hari Senin lalu saudaramu seiman bersama rekan seperjuangan membentuk komunitas penulis Al-Ghuraba. Motto: Berhujjah dengan Pena Sunnah. Kita ingin mendobrak semua paham menyimpang. Tulisan kita sudah harus menyebar di kampus. Dibaca dan dikaji rekan-rekan mahasiswa. Menjadi bahan perbincangan mereka. Menghiasi kumpulan artikel mereka. Dan menjadi buah bibir di kalangan orang-orang yang benci dengan dakwah sunnah. Kami yakin, saudara-saudara kita kaum Muslimin, sebejat apapun mereka, di dalam hatinya masih tersimpan aqidah yang murni ahlussunnah wal jamaah. Ya, ketika mereka baru tiba dari kampung. baru pertama menginjakkan kaki di kampus. Sebelum mereka bertemu senior.
Tulisan kita sudah harus menjadi konsumsi mereka. Ini juga menunjukkan eksistensi dakwah salaf. Bahwa kita tidak diam. Kita cegah mereka meyakini pluralisme, liberalisme, dan multikulturalisme. Paham-paham sesat. Laksana virus HIV yang membuka jalan masuk bagi semua penyakit. Pada saat yang sama, tulisan kita harus dapat mengangkat citra Islam. Islam yang indah kita sampaikan dengan argumen yang indah. Argumen yang mematahkan argumen lawan dan membuat lidahnya kelu. Ustadz Dr.Adian Husaini dalam novelnya, Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat, mengatakan, semua argumen mereka berdiri di atas pondasi yang lemah. Sedangkan Islam kita, kata seorang orientalis Jerman, berdiri di atas basis ideologi yang kuat.
Dengan tulisan dan kajian-kajian, kita berharap dapat menelanjangi pemikiran mereka. Dengan argumen mereka sendiri. Insya Allah, kami yakin, dengan pertolongan Allah, kita dapat melakukannya. Sebagaimana Allah telah menolong hambaNya Ibnu Taimiyah rahimahullah membantah filsafat kafir dan Syiah rafidhah.
Kita mulai dengan ilmu. Kita mulai dengan rekan yang baik. Kita mulai dengan kajian-kajian, diskusi, dan buku-buku tauhid. Kami yakin, minimal dengan mendalami materi tarbiyah seperti tauhid, makna dua kalimat syahadat, tiga landasan utama (mengenal Allah, mengenal Rasulullah, mengenal Dinul Islam) kita sudah dapat membantah pemikiran menyimpang itu. ditambah buku-buku dan artikel tentang liberalisme. Misalnya di situs insistnet.com. dan beberapa buku ringan.
Saudara Muslim dan Muslimah yang dimuliakan Allah,
Besar harapan kami semoga kami mendengar jawaban menggembirakan. Semoga tidak memberatkanmu. Kebaikan memang butuh perjuangan. Maka lihatlah di jalan mana dan dengan siapa engkau berjuang. Pertarungan ini bukanlah karena politik dan sosial budaya. “Pertarungan ini antara iman dan kufur. Genderang perang telah ditabuh. Maka pilihlah barisanmu.” (nasehat mujahidin)
Salam tanzhim,
penaghuraba@gmail.com
alghuraba-online.blogspot.com
+6289 915 444 96 (W. Ong)
Wa shallallahu wa sallam ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajmaiin [titik terakhir]

Read Post | komentar

Bedah Buku Islam Liberal 101

Selasa, 29 Rajab 1433 atau bertepatan tanggal 19 Juni 2012 Miladiyah, Solidaritas Muslim Se-FIS (SMS) bekerja sama dengan UKM LDK MPM Unhas, menggelar bedah buku “Islam Liberal 101”. Menghadirkan penulisnya, Akmal Sjafril, S.T, M.Pd.I yang sedang tour di kota Makassar. Tampil sebagai pembicara mendampingi Akmal, Dr. Muhammad Rusdi, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang memiliki kepedulian tinggi menangkal gerakan Islam liberal. Kegiatan ini dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus. Terutama yang tergabung dalam Komunitas Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal) Makassar.
Prof. Dr. Muhammad Noer Jihad, pembina SMS, dalam sambutannya mengatakan bahwa Islam liberal ibarat virus. Ia adalah kuman. Masuk ke tubuh dan tidak terasa. Ia bahkan telah masuk kampus dan sangat halus. Karena itu katanya, ia sangat bersyukur ternyata masih ada mahasiswa sebagai generasi penerus perjuangan yang masih tetap peduli terhadap isu liberalisme.
Beliau juga menyampaikan apresiasi yang baik kepada segenap pengurus SMS dan MPM Unhas untuk terus mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Akmal Sjafril mulai membedah buku dengan memaparkan definisi Islam Liberal. Katanya, para aktifis liberalisme sendiri tidak dapat mendefinisikan Islam liberal. Sehingga semua argumen yang berdiri di atas Islam liberal ini juga rancu.
Menarik ketika Akmal memaparkan 6 landasan Islam Liberal dari berbagai referensi orang-orang liberal sendiri.  Katanya, kesesatan Islam liberal bermula dari kelancangan mereka membuka pintu Ijtihad bagi semua lini Islam. Mulai dari muamalah (interaksi dengan sesama), ubudiyyah (ibadah), sampai Uluhiyah (teologi). Padahal menurutnya, dalam Islam pintu berijtihad hanya pada muamalah dan ibadah. Tidak ada partisipasi manusia dalam hal ketuhanan. Berupa sifat-sifat Allah dan yang lainnya. Akmal mengatakan, mereka sesuungguhnya tidak sedang berijtihad, tetapi berspekulasi.
Anak-anak yang baru belajar Islam pun tahu, bahwa sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad. Ijtihad tidaklah dapat mengutak-atik Al-Qur’an dan sunnah. apa yang secara tegas telah tetap seperti sifat-sifat Allah, tentang halal dan haram yang sudah ditetapkan, sudah tidak dapat berubah hanya dengan ijtihad manusia.
Landasan ke dua dan seterusnya tidak beliau paparkan karena terbatasnya waktu.
Pemateri kedua, Dr. Muhammad Rusdi memberi penegasan merebaknya liberalisasi Islam di masyarakat. Ia mengatakan, di kota Makassar ada seorang tokoh yang sangat getol mempromosikan liberalisme. Karena itu, katanya, kita harus punya langkah-langkah tertentu untuk menghalangi kerja mereka.
Di akhir acara, setelah tanya jawab beberapa peserta berfoto riang dengan pemateri.
Akmal sendiri masih akan melanjutkan tour. Diantaranya ke UIN Alauddin Makassar, markas para gembong liberasme di Makassar. Rencananya, di kampus ini, beliau akan dipanel dengan Prof. Dr. Qasim Mathar, praktisi dan pegiat liberalisme. Sekedar diketahui, Qasim Mathar sebelumnya selalu tidak hadir jika diajak panel dengan Ustadz yang menentang liberalisme, terutama saat hendak berdampingan dengan Dr. Adian Husaini, ketua program pasca sarjana pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Semoga kali ini dia dapat hadir.
Semoga Allah memberi pertolongan kepada hamba-hambaNya yang bekerja keras di jalanNya.[]
Mesjid Kampus Unhas
Rabu, 30 Rajab 1433
Read Post | komentar

Pilih Posisi


Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang  (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik
(QS. Al-Isra: 18 dan 19)
Read Post | komentar

Karena Allah atau Manusia?



Dari semua karya yang telah kita telurkan sampai hari ini, pantas kiranya kita bertanya pada nurani, apakah semua itu untuk Allah? atau untuk manusia?
Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“dan tidaklah kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dalam ayat lain Allah juga mengingatkan kita:
“dan mereka tidaklah diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan padaNya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya. Dan setiap manusia akan mendapat sesuai yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya untuk Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu untuk apa yang ia niatkan. (Muttafaqun ‘alaih)
Sehari-hari mengupdate status facebook, sungguh sangat menyuibukkan. Ia sangat senang ketika orang-orang memberi komentar. Atau setidaknya menyukai statusnya. Hampir semua komentar ia tanggapi. Ceritapun bergulir. Dan ia menghabiskan waktu satu atau mungkin dua jam di depan komputer. Menghabiskan pulsa internet atau handphone. Katanya untuk bersalam-sapa dengan teman-teman, dengan siapa saja, untuk menjalin silaturrahim meski tidak bertemu.
Ada juga yang begitu rajin mengupload tulisan di blog. Hampir setiap hari selalu saja ada tulisan baru. Entah bermanfaat bagi orang lain atau tidak. Ada yang menjadikan blognya sebagai ajang curhat. Menceritakan perasaan dan gagasan. Bahkan ada yang menceritakan kisah tragis hidupnya di blog. Sebagaimana facebook, ia sangat senang ketika banyak membaca tulisannya dan memberi komentar. Hampir pasti ia akan membalas semua komentar. Aduhai, sungguh sibuk orang seperti ini.
Lain lagi dengan beberapa mahasiswa, sibuk mengurusi BEM dan HMJ. Katanya untuk latihan berorganisasi dan memberi manfaat buat khalayak. Meskipun sesungguhnya program kerja mereka tidak ada yang benar-benar bermanfaat bagi banyak orang. Apalagi mahasiswa. Mereka hanya memprogramkan pengkaderan yang menyiksa mahasiswa baru. Juga sesekali seminar remeh-temeh. Tidak membahas persoalan umat yang sesungguhnya.
Namun kita patut berbangga sebab ada juga organisasi dakwah. Sehari-hari para pengurus mengorganisasi tarbiyah-tarbiyah, seminar-seminar, dan cara terbaru merekrut orang-orang untuk bertakwa kepada Allah. ta’lim-ta’lim di gelar, tarbiyah-tarbiyah bertebaran di sudut-sudut mesjid. Alhamdulillah, semakin banyak ummat yang senang dengan kegiatan keagamaan.
Mereka juga mahasiswa, sama dengan yang lain. Sama dengan orang-orang yang setiap hari meneteng ransel beasr berisi buku-buku tebal. Duduk di bangku-bangku kuliah, mendengarkan ceramah dosen, diskusi, lalu kembali ke rumah atau pondokan masing-masing. Di rumah-rumah, mereka menyelesaikan tugas yang menumpuk. Menahana kantuk dengan secangkir kopi dan bebeapa buah gorengan. Pagi harinya, mereka kembali menenteng ransel yang sama. Duduk di kelas menjalani kuliah-kuliah. Hingga hari terakhirnya di kampus, mereka orang yang sibuk.
Namun Alhamdulillah, di tengah hiruk-pikuk kampus, segelintir mahasiswa masih ada yang prihatin dengan kondisi umat ini. prihatin dengan orang-orang yang melalaikan shalatnya. Prihatin dengan orang-orang yang menganggap ringan dosa berdua-duaan dengan lawan jenis. Prihatin dengan jadwal kuliah yang biasanya bertabrakan dengan jadwal shalat. Prihatin dengan wanita-wanita yang tidak berjilbab. Atau wanita-wanita yang sekedar mengaku berjilbab. Merekalah para aktifis dakwah.
Sehari-hari mereka selalu lebih sibuk dadri yang lain. Semua mahasiswa tentu punya jadwal kuliah. Semua mahasiswa punya tugas, ada jadwal diskusi, ada diktat yang harus dibaca, ada teman-teman yang harus dipergauli. Mereka, para aktifis dakwah, kini punya kesibukan lain yang hampir menyita semua waktunya. Jika diperhatikan keseharian dan orientasi aktifitas mereka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa mereka sesungguh para pendakwah yang kebetulan kuliah. Ya, kuliah hanyalah pekerjaan lain mereka. Di samping berdakwah.
Di sini, kita berhenti. Berhenti sejenak. Merenung. Berpikir. Apakah semua kesibukan itu sudah untuk Allah. benarkah pernyataan kita bahwa semua dakwah ini adalah untuk Allah? benarkah bahwa Anda mengupdate status facebook karena Allah? atau menulis di blog untuk Allah? bukankah itu semua agar Anda dikenal dan dikenang?
Di sini, kita berhenti, berhenti sejenak. Merenung. Berpikir. Apakah semuanya sudah untuk Allah?
Amalan baik yang memang baik dan tidak ditujukan pada Allah hanya akan berakhir sia-sia. Selain tidak menjadi pahala di sisi Allah, juga hanya melemahkan jasad dan memperbudak seseorang. Tak mudah mencari orang yang diperbudak facebook dan twitter. Tak susah juga menemukan orang yang diperbudak blog. Bahkan tidak cukup sulit menemukan orang-orang yang diperbudak slogan-slogan kesejahteraan masyarakat, pembelaan terhadap kaum tertindas, pembela orang-orang yang terzhalimi. Tidak susah menemukan mereka.
Sudahlah, sudah saatnya kiranya diri ini menunduk dalam-dalam. Melihat kembali niat itu. niat di dalam hati. Hati yang mudah terombang-ambing. Sungguh, jika hati ini tidak menundukkan jasadnya, menghamba kepada Allah semata, ia hanya kan menjadi budak lapuk bagi dunia yang remeh ini.[]
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara: umurnya untuk apa dia gunakan, ilmunya sejauh mana dia amalkan, hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dibelanjakan, dan tubuhnya untuk apa dia gunakan.”
(HR. At-Tirmidzi)


Read Post | komentar

Bukan Karena Pasir


Suatu hari setelah kuliah, saya duduk dengan teman-teman di teras trotoar kampus. Kebiasaan ini saya lakukan agar kami lebih dekat sebagai peluang berdakwah kepada mereka. Tiba-tiba lewat di depan kami 2 orang muslimah berjilbab ‘yang benar jilbabnya’. Teman-teman tak ada reaksi. Aku pun bertanya pada salah seorang teman di sampingku, “Fulan, kamu mau istrimu nanti berjilbab yang benar?”
“Anu Yudi, e,e,.. menurutku itu budaya Arabji,” jawabnya ragu.
Aku menimpali “Budaya Arab?”
“Iyo to, itu budaya Arab ji. Kan di Arab itu padang  pasir jadi debu di mana-mana makanya perempuan-perempuannya berjilbab ‘besar’ dan bercadar”. Tampaknya ia cukup yakin dengan pernyataan ini.
Pernyataan tadi di dengar teman-teman yang lain sehingga rasanya aku perlu memperdengarkan jawabanku kepada mereka. Dengan suara cukup besar kukatakan, “Jika memang karena debu dan pasir, bukankah yang paling pantas berjilbab dan bercadar adalah lelaki?”
“Iya ya.”
Ia tersenyum, tersipu malu.
“Lelaki Arab kala itu adalah orang yang rajin jalan ke pasar dan berperang. Jadi mereka paling sering terkena debu atau pasir. Tetapi faktanya mereka tidak berjilbab. Islam juga tidak memerintahkan mereka berjilbab. Wanita yang lebih banyak tinggal di rumah justru disyariatkan berjilbab. Bukankah ini jelas bukan karena pasir atau budaya Arab?”
Ia hanya tersenyum malu dan mengangguk-angguk. Teman-teman yang lain hanya tersenyum tak dapat berkata-kata.
Kawan, Islam ini indah. Janganlah kita tidak mau menikmati keindahan itu dengan ego dan hawa nafsu kita. Allah telah menyiapkan hidangan berupa syariat mulia yang akan memuliakan diri kita, saudara-saudara perempuan kita, ibu-ibu kita, lalu mengapa kita harus mencari-cari alasan untuk menghindar dari kemuliaan ini? Sungguh, seorang anak kecil akan memilih permen paling cantik warna dan paling enak rasanya di antara banyak permen. Lalu mengapa orang dewasa yang berakal memilih wejangan buruk sebagai ganti hidangan yang lezat?
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33: 59)
Read Post | komentar

Tips Bercita-Cita

Entah banyak diantara manusia yang keranjingan ikut training motivasi namun masih belum termotivasi, belum dapat mengejar terget sesuai harapan, semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat. Inilah tips singkat meraih cita-cita:
Pertama, tetapkan niat karena Allah. Jika dari awal niat hanya untuk kesenangan dunia, capaian yang besar justru bisa menjadi petaka. Kalau bukan di dunia maka di akhirat nanti. Niat yang ikhlas juga memacu semangat untuk tetap berusaha dengan tetap memperhatikan rambu-rambu syariat.
Kedua, tetapkan tujuan tertinggi yaitu surga. Cita-cita tertinggi kita adalah surga. Adapun cita-cita dunia adalah cara kita menuju surga itu. Misalnya di dunia ini, bercita-citalah untuk dapat menghafal Al-Qur’an selama 9 bulan. Atau sudah mengkhatamkan kitab-kitab tauhid selama 1 tahun, memperbaiki kurikulum sekolah yang sekuler, dan lain-lain.
Ketiga, isi hari-hari dengan kesibukan mencapai cita-cita itu. Kalau Anda bercita-cita menghafal Al-Qur’an, maka setiap hari sudah harus punya target misalnya 1 lembar hafalan perhari. Setiap selesai shalat tahajjud mulailah menghafal sampai setelah shalat shubuh. Lalu sepanjang hari di setiap kesempatan murajaah sesering mungkin. Ba’da maghrib bisa diperdengarkan apda orang lain atau pembimbing. Juga membantu kita menghafal bila selalu dengan para penghafal.
Keempat, istiqamah. Semangat harus tetap menyala. Membara. Hingga cita-cita itu tercapai. Lalu cita-citakanlah yang lebih besar dari itu.
Mesjid darul Ilmi FEB Unhas
Rabu, 23 Rajab 1433
Read Post | komentar

Surat Ibnu Taimiyah Untuk Ibundanya...

Bismillahirrahmanirrahim...   
Dari Ahmad bin Taymiyyah kepada ibunda yang kami sayangi dan kami hormati, semoga Allah memberkahi usianya, memberikan beliau keselamatan dan kelapangan, serta menjadikan beliau sebagai salah satu hamba-Nya yang terbaik.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kami memuji Allah, Zat yang paling berhak untuk dipuji. Tiada yang berhak diibadahi melainkan hanya Dia. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi terakhir dan imamnya orang-orang shalih, Muhammad, hamba dan utusan-Nya.

Sungguh karunia Allah telah datang dengan melimpah, pertolongannya pun tiada pernah berakhir. Ananda pun bertahmid memuji-Nya, meminta-Nya untuk menambah kemurahan-Nya. Kemurahan Allah tidak akan berpaling darimu wahai ibuku yang berbahagia.

Sungguh bunda, keberadaan ananda di Mesir adalah adalah karena perkara yang penting, bila tugas (dakwah) ini ditinggalkan, maka akan timbul penyimpangan dan kerusakan bagi agama dan dunia kita.
Bunda…

Berada jauh dari bunda bukanlah jalan yang ingin ananda pilih. Jikalau burung dapat membawa kita, ananda pasti akan datang kepadamu. Namun bunda, ketidakhadiran ananda di sisi bunda ada sebabnya. Dan bila bunda melihat keadaan kaum Muslimin, bunda pun pasti akan memilihkan bagi ananda tempat yang sama sebagaimana ananda berada sekarang.

Sungguh bunda, ananda selalu berdoa kepada Allah untuk menunjuki kita kepada pilihan yang tepat, dan ananda selalu berdoa bagi kebaikan bunda. Ananda juga memohon kepada Allah untuk memberkahi kita dan seluruh kaum muslimin, dengan rahmat yang meliputi keselamatan dan kemanfaatan.

Allah telah bukakan bagi ananda gerbang keberkahan, ampunan, serta hidayah melalui jalan yang tiada ananda kira sebelumnya. Dalam keadaan selalu ingin pulang ke pangkuanmu wahai ibunda, ananda pun beristikharah. Ananda tidak bisa membayangkan jika Allah tetapkan pilihan bagi diri ananda untuk menyukai perkara duniawi atau hanya merasa cukup dengan amalan ibadah yang lebih sedikit agar bisa dekat dengan dirimu, bunda. Di sini, di Mesir masih banyak perkara yang tidak bisa ananda tinggalkan, karena takut akan bahayanya, secara umum maupun secara pribadi, dan sungguh saksi-saksi itu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang hadir.

Ananda ingin bunda banyak berdoa kepada Allah. Mintalah agar Dia memberikan hidayah kepada kita dan memilihkan jalan yang terbaik bagi kita. Karena Allahlah Yang Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak. Dialah yang mampu, adapun diri kita adalah lemah. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Merupakan sebuah kebahagian bahwa anak Adam melakukan istikharah dan senang dengan apa yang Allah takdirkan bagi dirinya. Dan merupakan kesesengsaraan jika seorang anak Adam meninggalkan istikharah dan berkeluh kesah dengan takdir Allah.”

Sungguh, seorang pedagang dalam perjalanannya mungkin takut kehilangan uang, oleh karena itu dia menetap di sebuah tempat agar dia bisa berjalan lagi. Permasalahan yang sedang kami hadapi di sini begitu besar untuk dijabarkan, akan tetapi tiada daya dan upaya melainkan hanya melalui Allah.
Dan akhirnya, tolong sampaikan salam ananda untuk semua keluarga, tua dan muda, para tetangga, sahabat-sahabat, serta karib kerabat kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Walhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Muhammad, wa ‘ala ahlihi wa ashhabihi.
sumber: srahmadayanti.blogspot.com (terima kasih)
Read Post | komentar

Al-Mubaraqah Menjelang Ramadhan

Tadi malam kami berdiskusi dengan salah seorang jamaah Mesjid ini. Menyongsong bulan Ramadhan, beliau mengusulkan perbaikan mesjid. Diantara yang perlu dibenahi antara lain dinding yang sudah mulai kotor, kusen tempat wudhu yang sudah rapuh, perampungan ta’mir mesjid, dan pengelolaan aktifitas pemakmuran mesjid selain shalat berjamaah. Misalnya dengan mengatifkan kembali kultum-kultum setiap ba’da subuh.
Lebih dari itu, sudah saatnya masyarakat sekitar dibuat merasa memiliki mesjid ini. Sehingga tidak terkesan hanya milik yang tinggal di sana saja. Memasang tokoh-tokoh masyarakat sebagai pengurus mesjid insya Allah akan lebih baik. Kita perlu musyawarah rutin dengan warga. Kiranya ada perbaikan setiap pekan. Dengan cara ini kami berharap masyarakat dapat berperan aktif dalam memakmurkan mesjid.
Ya, merasa memiliki, butuh, adalah hal utama yang membuat orang bertanggung jawab.
Kata salah satu sumber terpercaya, dulu mesjid ini adalah kandang kambing. Mesjid sudah berdiri tetapi ditempati kambing. Sehingga syaikh dari Saudi yang turut merintis mesjid ini terlibat langsung membersihkan. Perjuangan memakmurkan mesjid ini adalah suat cerita yang unik katanya. Dan Alhamdulillah, sampai sekarang Al-Mubaraqah sudah dapat ditempati shalat berjamaah 5 waktu. Juga shalat Jum’at.
Sebagai pengurus Mesjid, tugas ini bukanlah tugas biasa. Ia adalah amanah dari Allah. kami memohon pertolongan kepada Allah untuk menguatkan kami dalam setiap amanah. Semoga Allah menerima pahala semua orang yang telah memakmurkan mesjid ini.[]
Mesjid Al-Mubaraqah
Rabu, 16 Rajab 1433
Read Post | komentar

KAMI TAK IKUT ESQ

Beberapa pekan lalu saya diajak mengikuti training ESQ way 165 yang katanya wajib bagi penerima beasiswa seperti saya. Saya tentu tidak sepakat. Temanku pun bertanya. Saya hanya menjawab sekenanya bahwa cara Islam mendidik umat tidak seperti itu. jawaban singkat ini saya pilih karena tidak banyak awktu menjelaskan sebab kami hanya bertemu di jalan.

Sekarang, saya tampilkan alasan sesungguhnya mengapa saya  dan beberapa teman yang sepemahaman dengan saya tidak mengikuti training yang katanya Islami ini.
ESQ menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara bebas. Sehingga ia sarat dengan ide pluralisme dan liberalisme. Ini jelas ketika kita membaca bukunya, tidak kita dapat suasana tauhid yang begitu kental dalam kitab-kitab para ulama kita. padahal, sudah tak disangsikan, jika ingin memperbaiki umat maka segalanya harus mulai dari tauhid.
ESQ juga tidak menekankan pentingnya pengamalan sunnah. bahkan ia tak memberi rekomendasi mendalami Islam sesuai Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman tiga generasi terbaik Islam. Kita justru disuguhkan paham-paham sufi yang menganggap kebenaran berasal dari hati nurani. Faktanya, hati tak dapat dijadikan sandaran. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjamin bahwa iman itu naik turun sebagaimana silih bergantinya amalan dan maksiat.
Di akhir buku ini, penulis ESQ menampilkan 99 nama dan sifat Allah lengkap dengan panduan aplikasinya bagi manusia. Masing-masing nama Allah diinterpretasi dengan sifat tertentu, lalu diberi kolom penilaian apakah telah terlaksana atau tidak. Ini jelas bertentangan dengan aqidah kita. sebab nama dan sifat Allah adalah nama dan sifat bagi Allah. bukan bagi hambaNya. Adapun kita sebagai orang beriman dituntut berpedoman pada nash-nash Al-Qur’an dan sunnah serta teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satupun dalil yang mengajak seorang Muslim untuk mengcopy sifat-sifat Allah.
Itu dari segi ajaran. Belum lagi metode pelatihannya.
Di dalam ruangan, laki-laki dan perempuan bercampur-baur. Tidak ada hijab. Bahkan wanita-wanita yang tidak berjilbab pun ada di sana. Peserta disuguhkan dentuman music hampir dari awal hingga akhir training. Tampaknya musik ini memang unsur utama pelatihan itu. padahal hadist diharamkannya musik seperti itu cukup banyak. satu diantaranya adalah:
Abu Maalik Al Asyaari radiyahllahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “ Akan  ada  beberapa kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutera (bagi lelaki), khamr dan alat musik…”
(HR. Bukhari 4/30).  Silsilatul Ahadiith As Sahiihah 1/91/139-147  dan Sahiih Al Jaami’us Saghiir 5466.)

Dan masih banyak lagi..
Kawan, jika memang ingin memperbaiki kualitas diri maka perbaikilah diri ini seperti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbaiki sahabat-sahabatnya. Bukan dengan training ESQ tetapi dengan tarbiyah-tarbiyah dan ta’lim secara berkesinambungan. Imam Malik rahimahullah pernah berkata: tidak akan baik umat ini, hingga ia kembali pada apa-apa yang membuat umat terdahulu baik.
Mesjid Al-Mubaraq
Malam Senin, 14 Rajab 1433
Read Post | komentar

BEGINILAH SABAR

Mudah mengeluh, berkeluh kesah, selalu menyalahkan saudara seiman atas kerja dakwah, dan selalu merasa berat beribadah, menjadikan shalat hanya sebagai rutinitas, berdakwah hanya sebagai program kerja lalu mundur tanpa berita karena tantangan menghadang, taku dicemooh, luntur karena senyum sinis, ketahuilah wahai jiwa yang lemah, ia bukanlah da’i sejati.
Jalan ini adalah jalan terjal. Jalan dakwah adalah jalan terjal. Ia tidak dilalui kecuali orang-orang mulia. mundurnya engkau dari jalan ini menunjukkan kelemahanmu. Tidakkah engkau ingat kisah-kisah para pendahulu kita? para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapat ujian yang jauh lebih keras dari kita. Kita hanya dicemooh, orang-orang hanya tersenyum sinis pada kita, belum diantara mereka yang sampai memukul kita, sementara para pendahulu kita, generasi sahabat, diantara mereka ada yang ditindih dengan batu besar di tengah terik matahari, dipaksa mengucapkan kalimat kufur. Juga ada
sahabat yang ibu-bapaknya dibunuh di depannya. Para sahabat secara umum mendapat siksaan bertubi-tubi dari kafir Quraisy, tetapi mereka sabar. Sebab janji Allah pasti berlaku. Bahwa akhir yang baik itu selalu untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih, lalu bersabar di atasnya.
Jika engkau masih berkeluh kesah atas panasnya ruangannya belajar kita, ketahuilah, sebagian saudara-saudara kita tidak punya waktu dan tempat untuk belajar. Tidak ada ta’lim malam ahad, tidak majelis tahfizhul Qur’an, tidak ada rekreasi, dan tidak ada olah raga pekanan.
Tengoklah saudara-saudara kita di Suriah. Telah sampai kepada kita berita tentang saudara-saudara kita yang dikubur hidup-hidup. Hingga tanah telah mencapai leher mereka, mereka dipaksa mengucapkan kalimat kufur. Syahadat atas ketuhanan Bassar Al-Assad. Tetapi mereka tetap teguh. Mereka mengucapkan kalimat tauhid. Dan akhirnya mereka mati dalam keadaan mengucapkan kalimat tauhid.
Saudaraku, sesungguhnya balasan itu tergantung beratnya amalan..
Mesjid Al-Mubaraqah
13 Rajab 1433

Read Post | komentar

KECUALI ORANG BERIMAN

Jika seseorang mengeluh dengan membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, maka sesungguhnya ia menganggap kecil sesuatu itu. Jika ia sedih karena tidak mendapatkan si Fulanah, maka sesungguhnya ia menganggap kecil Fulanah yang ia miliki.
Demikian juga orang-orang yang membanggakan para penemu radio, lampu, TV, dan lain-lain, lalu membandingkannya dengan saudara-saudaranya orang-orang beriman, maka sesungguhnya, ia menganggap kecil orang-orang beriman ini.
Ketahuilah wahai saudaraku, satu hal yang kita miliki yang tidak dimiliki orang-orang kafir adalah keimanan. Relakah engkau menukar keimanan ini dengan lampu neon dan radio? Sesungguhnya Allah menjadikan mereka budak yang melayani kita. Biarlah mereka menemukan teknologi dan menjadi terkenal karena temuannya. Biarlah mereka dikenang sebagai ilmuwan. Biarlah engkau tidak dikenang. Cukuplah langit dan bumi bersaksi bahwa engkau adalah orang shalih. Yang karena amalanmu mereka tersenyum.
Mesjid Al-Mubaraqah
Ahad, 13 Rajab 1433 
Read Post | komentar

RUGI

Tidakkah kita merasa rugi? Ketika pahala tidak bertambah dan dosa terus bertambah, tidakkah kita merasa rugi?
Sesungguhnya untung rugi seorang Muslim tidaklah diukur dari untung rugi dunianya. Yang lebih penting dan lebih utama mengukur untung rugi adalah nilai ukhwrawinya. Ketika ia memilih jalan maksiat maka sungguh ia telah rugi.
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang-orang yang paling bersemangat meraih amalan-amalan paling utama. Dikisahkan, seorang sahabat menghadapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk izin ikut berperang. Tetapi dengan berat hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengikutkan beliau karena tidak ada lagi kendaraan. Dengan berat hati sahabat ini pulang. Ia berderai air mata.

Ketika sahabat-sahabat lain berangkat dengan euforia jihad ke medan juang, ia hanya dapat tinggal di rumah, tertinggal dalam amalam yang paling mulia. padahal ia telah mendapat izin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak ikut perang. Dalam benaknya, dimanakah posisinya di sisi Allah, jika para sahabat lain telah mendapat syahid, atau kemenangan yang nyata, lalu ia hanya dapat duduk di rumah dan tidak terlibat sama sekali.
Subhanallah. Para pendahulu kita sungguh sangat bersedih jika tertinggal amalan yang mulia. bahkan salah seorang sahabat lain pernah mengkonfirmasi kepada ‘Aisyah radiallahu ‘anha tentang ganjaran pahala satu qirath atau seperti gunung Uhud bagi orang yang mengantarkan jenazah. ‘Aisyah radiallahu ‘anha membenarkannya. Ia pun berseru, aduhai betapa banyak qirath yang ia lalaikan sampai saat itu. padahal hal itu tidaklah diwajibkan baginya. Namun begitulah orang-orang beriman, merasa sangat rugi jika tertinggal pahala yang mulia di sisi Allah.
Orang-orang beriman tidak merasa rugi jika harta dan raganya digunakan di jalan Allah. meskipun pada tampaknya harta itu berkurang. Abu Bakar Ash-shiddiq pernah menginfakkan semua hartanya pada perang Tabuk. Umar bin Khattab menginfakkan setengah hartanya.dan sahabat lain berinfak dengan jumlah yang besar-besar. Tidak seorang pun diantara mereka yang merasa rugi. Mereka tidak berkecil hati. Mereka tidak kecewa apalagi mendongkol atas hilangnya harta mereka. Merke justru gembira karena dapat berperang membela agama Allah ta’ala.
Wahai jiwa yang lemah, karena apakah engkau merasa rugi?
Mesjid Al-Mubaraqah
13 Rajab 1433

Read Post | komentar

WAHAI JIWA YANG LALAI



Wahai jiwa yang senantiasa lalai. Wahai diri yang lalai dari shalatnya. Lalai bermunajat pada Tuhannya, lalai terhadap orang tuanya. Sungguh dunia ini tidak kekal. Cepat atau lambat, ia akan hancur lebur. Mengubur segala kenangan dan cerita-cerita. Kalaupun ia tetap ada, namun engkau akan terbenam di dalam bumi. Bersama semua kelalaianmu. Dan suatu saat nanti, jika waktunya tiba, engkau akan dibangkitkan, bersama dosa dan segala amalmu. Akankah amalmu mampu menyelamatkanmu?


Wahai Allah yang Maha pengampun, sungguh amalan kami tiadalah mampu menyelamatkan kami dari siksa api neraka. Jikalau bukan karena ampunan dan rahmatMu ya Allah, sungguh tak ada satupun diantara kami yang dapat memasuki surgaMu.
NikmatMu sangatlah besar. AmpunanMu tiada terkira. Dan kasihMu kepada kami tak berbatas. Diri ini betapa banyak bergelimang dosa. Maksiat tak terhitung sementara ibadah kami sangatlah kurang. Tetapi kami ya Allah, beramal dengan amalan yang paling Engkau cintai. Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Ilah yang paling berhak diibadahi dengan benar. Bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi dan RasulMu. Karena itu ampunilah kami Ya Allah.
Atas kematian tetua kami
Mesjid Al-Mubaraqah
11 Rajab 1433
Read Post | komentar
 
© Copyright Formis Official Site 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all